Kamis, 27 Oktober 2011

hindari galau

Perasaan galau sering melanda kehidupan manusia. Perasaan seperti ini didefinisikan orang dengan berbagai tipe. Ada yang bilang galau itu perasaan tertekan, galau itu gak ada uang dan gak’ bisa makan, galau itu lagunya Titi DJ (LOH….), galau itu pas’ diputusin pacar, galau itu pas ujian gak’ belajar dan gak tau mau nyontek ma siapa, galau itu cabang baru dari perasaan seperi sedih, marah, putus asa, cengeng, dan lainnya, dan pastinya masih banyak lagi definisi galau yang diprediksi oleh setiap individu. Bahkan ada yang lebih sadis, galau itu (katanya) bisa membunuh karakter pribadi sebab ia membuat seseorang tidak dapat berbuat apa-apa lagi dikarenakan tidak dapat berfikir jernih.
Galau merupakan suatu perasaan dimana seseorang memikirkan hal-hal secara berlebihan, kemudian bingung ketika memikirkan apa yang harus dilakukan terhadap hal tersebut dengan pikirannya sendiri, sehingga emosi menjadi tidak stabil, pikiran pusing, lalu mendadak imsomnia. Galau juga perasaan emosi labil seseorang saat ia tidak dapat menentukan pilihan, takut akan yang terjadi nanti, apakah sesuai harapan atau tidak, benar atau salah ya…???, bimbang, dan gak’ percaya diri dengan apa yang sudah dipilih untuk menjadi sebuah pilihan dan keputusan akhir yang diambil.
Penyakit ini rentan hinggap pada usia- usia muda, remaja, belia, dan bahkan yang sudah dewasa pun terkadang juga ikut merasakan sengatan galau ini. Nah, jika sudah terinfeksi, jangan dibiarkan berlama-lama mengendap dalam diri. Berikut beberapa tips yang dapat menangkis rasa galau yang disebabkan oleh banyak faktor yang gak mungkin disebut satu per satu. Semoga bermanfaat ya :D
  1. Berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri karena hanya akan membuat perasaan jadi semakin down. Berpikirlah kalau ini merupakan sebuah ujian dari Tuhan karena Tuhan sayang sama diri kita dan Tuhan mau menaikkan derajat kita di hadapan orang lain dengan ujian tersebut. Dengan begitu kita akan lebih percaya diri setelah ujian itu berhasil dilewati, karena ujian yang diberikanNya tidaklah diluar kemampuan hambaNya.

  2. Hadapi dengan senyuman, berpikir positif, dan tenang dalam menyelesaikannya. Dengan begitu, perasaan akan lebh terasa relax dan sadar bahwa masalah yang dihadapi gak’ seberat yang dibayangkan.

  3. Selalu aja merasa beruntung, agar bisa terus bersyukur atas semua nikmat dari Tuhan.

  4. Lakukan kegiatan positif dan berguna, lalu nikmatilah semua itu.

  5. Dengarkan lagu-lagu yang disukai

  6. Kumpul bersama teman-teman, kerabat, keluarga, lalu sharing dan curhat ke mereka. Tetapi jangan sampai salah pilih orang, karena bisa makin’ runyam ntar masalahnya. Bukannya nyelesain’ tapi malah nambah, capek deh…

  7. Hadapi yang akan terjadi, bukan malah menghindari dan takut. Jangan pernah berpikir untuk lari dari masalah. Masalah yang ada bukan untuk dihindari, tetapi untuk diselesaikan. Semakin dihindari, maka ia akan makin membesar. Menghadapi tidak selalu berdampak negatif, malah kebanyakannya berdampak positif. Justru menghindar akan makin membuat pribadi kalah dan merusak diri dari segi mental.

  8. Perbanyak beribadah. Meminta pertolongan dan petunjuk kepadaNya, dan temukan kedamaian ketika telah melakukan ibadah dan meminta solusi langsung kepada Sang Maha Esa.
Semoga tips diatas bisa membantu melepaskan perasaan galau. Jangan tambah galau ya kawan-kawan, nikmati dan hiduplah bebas, tanpa beban, dan merdeka :D

Selasa, 25 Oktober 2011

foods should be avoided during pregnancy

foods should be avoided during pregnancy
There are several types of foods should be avoided during pregnancy because they can cause infections such as;      salmonella, toxoplasmosis, listeria, E. coli, which can harm your unborn baby.
• Jangan makan daging mentah (sushi) atau yang dimasak kurang matang, karena mengandung Toksoplasmosis sebuah parasit yang dapat menyebabkan infeksi serius pada janin anda dan juga E.coli, yang berbahaya bagi ibu hamil dan janin.
• Toxoplasmosis found in vegetables are not washed properly, therefore wash your vegetables well, especially for salads or vegetables are eaten raw. Avoid cat feces or playing with cats during pregnancy because they contain toxoplasmosis.
• Do not eat chicken and undercooked eggs are cooked or raw, avoid eating the liver of chicken / meat that may be the source of the salmonella, which can cause severe diarrhea in pregnant women. Also note the dishes, cooking tools are exposed to raw chicken meat is to be washed.
• Tuna steak, sea bass, shark, or large-sized fish are known to contain high levels of mercury can cause neurological damage if eaten in large quantities. FDA recommendations tuna and large size is limited to 12 ounces per week
• Soft cheeses such as brie and camembert, cheese blueveined well as cheese from the milk of goats and sheep, and do not drink milk is not pasteurized. All these products have a risk of carrying listeria. Listeria type of bacteria that can penetrate the placenta and cause fetal infection, in adults there are no symptoms or flu-like. Listeria can cause miscarriage, premature birth, and blood poisoning. But avoid these foods until your baby's birth.
• Do not drink containing alcohol can cause developmental abnormalities in the fetus there are also emotional problems in infants.
• Drinks that contain caffeine such as coffee, tea should be avoided or limited because of the coffee can affect the baby's low weight, miscarriage and caffeine also reduces iron absorption.
Remember your baby's development in the womb depends on what you eat during pregnancy.

Minggu, 23 Oktober 2011

Galau Terkontrol

Belakangan istilah galau sangat booming ya...sesuatu bngt ya....

Lihat di fb,twitter dan cerita teman2 intinya semua lagi galau ...
galau sih boleh-boleh aja apapun masalahmu,sebagai manusia wajarlah kita masuk ke dalam dunia penggalauan...

Tapi jangan jadikan penggalauan itu hanya jadi penghaalang atau menyakitkan bagi dirimu,sebenarnya bukan masalah yang bikin kamu tersiksa tapi dirimu yang sendiri yang bikin kamu tersiksa

tanggapilah kegaluan itu dengan Positif,dengan itu tercipta lah "Galau Terkontrol" galau yang tidak membabi buta...

Be Smart..Positif thinking,Beri sugesti-sugesti positif pada diri sendiri,Karna kita sendiri lah yang bisa mengatur diri sendiri dan memotivasi diri sendiri.

Seribu kata-kata Motivasi yang bijak dari orang lain tak akan ada hasilnya apabila kita tidak memberi sugesti diri sendiri... Motivation Yourself...

-Kamu sedang Patah Hati menangislah sekencang2nya semalam saja,Ke esokan mulailah harimu dengan senyuman sesuatu di muali dengan baik akan menghasilkan hasil yang baik juga .

-kamu Sedang gagal Berusaha/Berkerja...Gunakan waktumu untuk evaluasi dimana kesalahan dan kekurangan agar tidak terjatuh 2 kali pada lubsng yang sama,jangan mau kalah dengan keledai,keledai saja tidak mau jatuh pada lubang yang sama

-Kamu sedang Marahan/ada masalah dengan Orang Tua...Semarah-marahnya mereka tetaplah orang yang telah membesarkan dan merawatmu,siappun yang salah meminta maaf lah terlebih dahulu karna mereka yang telah membuatmu seperti sekarang ini,Tak ada yang namanya Mantan orang tua atau mantan anak

-Kamu Sedang kesal lihat anakmu yang nakal..Jadilah oangtua yang bijaksana dan jadi teladan.bagaimanapun nakalnya anak adalah hasil cinta dengan pasangan maka rawatlah dengan cinta,jangan pernah main fisik dalam mendidik karna akan berpengaruh ke sikapnya nantinya,tanamkanlah kebaikan-kebaikan di hatinya dan berikan contoh yang bisa di teladani

- Kamu sedang Bergelut dengan Penyakit..Bersabarlah karna semua di ciptakan berpasangan ada hitam ada putih,manis berpasangan dengan pahit Begitu juga dengan penyakit pasti ada obatnya ,jangan berputus asa Perbnyaklah Mendekatkan diri PadaNya...

- Kamu sedang rindu dengan orang yang jauh disana..Rindu/kangen di pisahkan jarak memang rasanya bisa membuat tanpa di sadari air mata menetes,manusiawilah dimana insan yang terpaut hatinya di pisahkan oleh jarang,cemburu lihat orang yang berdua an dengan pasangannya itu wajar..Jadilah Pasangan yang setia toh jauh bukan lah alasan kita untuk menghianati.jadilah orang yang bisa di andalkan oleh pasanganmu.

-Buat yang sedang Bahagia..Perbanyak Bersyukur dengan begitu Yang maha kuasa tidak akan segan-segan menambah kebahagiaab untuk kita,begitu juga sebaliknya apabila kita bahagia tapi lupa PadaNya maka Kebahagiaan itu akan di cabut Olehnya...

Jadi...Kontrol lah dirimu apapun keadaanmu
Ok...

Kamis, 15 September 2011

Keajaiban Uang Rp.5550



Entah dari mana inspirasi cerita ini dibuat, yang jelas sesuatu yang kita yakini didunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Amel baru berumur sembilan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Heri. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwa Heri.



Hanya operasi dan butuh biaya yang sangat mahal yang bisa menyelamatkan jiwa Heri tapi apalah daya kedua orang tua Amel tidak punya biaya untuk itu adiknya itu. Amel mendengar ayahnya berbisik kepada Ibunya, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."

Dengan tergesa-gesa Amel pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah celengan dari tempat persembunyiannya dalam sebuah lemari. Lalu dipecahkan dan dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan bergegas menghitungnya dengan cermat. Diulangnya hitungan itu hingga lima kali. Nilainya harus benar-benar tepat.
  


Dengan membawa uang tersebut, Amel secara diam-diam menyelinap keluar rumah dan langsung naik bus angkot pergi ke toko obat di sudut jalan. Setibanya di toko obat tersebut, ia melihat seorang apoteker paruh baya berambut sedikit memutih sedang menelepon.

Amel menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian tapi sang apoteker terlalu sibuk dengan telepon tersebut untuk diganggu oleh seorang anak kecil yang berusia sembilan tahun. Amel berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. klontang !

"Apa yang kamu lakukan heh ?" tanya apoteker tersebut dengan suara marah. "Saya ini sedang berbicara dengan saudara saya."

"Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya," Amel menjawab dengan nada yang sama. "Dia sakit...dan saya ingin membeli keajaiban."

"Apa katamu ?," tanya sang apoteker.
"Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang... jadi berapa harga keajaiban itu ?"

"Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu." ucap apoteker.
"Dengar, saya mempunyai uang untuk membeli keajaiban itu. Katakan saja berapa harganya." Kata Amel lalu tiba-tiba keluar seorang pria berpakaian rapi dari balik ruang, berhenti dan bertanya, "Keajaiban macam apa yang dibutuhkan oleh adikmu nak?"

"Saya tidak tahu," jawab Amel. Air mata mulai menetes dipipinya. "Saya hanya tahu dia sakit parah......... dan Ibu saya mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya karena biayanya sangat mahal tapi saya mempunyai uang."

"Berapa uang yang kamu punya ?" tanya pria itu lagi.
"Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah," jawab Amel dengan bangga. "dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini."

"Wah, kebetulan sekali," kata pria itu sambil tersenyum. "Lima ribu lima ratus lima puluh rupiah ini harga yang tepat dan cocok untuk membeli sebuah keajaiban yang dapat menolong adikmu". Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Amel sambil berkata : "Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya, juga orang tuamu."

Ternyata pria apoteker itu adalah seorang ahli bedah terkenal. Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Heri dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat seperti sediakala.

Kedua orang tuanya sangat takjub mendapatkan keajaiban tersebut. "Operasi itu..." bisik ibunya..... "adalah keajaiban. Tak terbayangkan berapa harganya".

Amel hanya tersenyum. Dan hanya dia yang tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut... Ya... Lima Ribu dan Lima Ratus Lima Puluh Rupiah... ditambah dengan "Keyakinan" . 
      

Hanya Ingin Berjilbab

Suatu sore hari di depan ruang TV aku dan kawan-kawan melepas lelah usai bekerja. Kami saling berbincang tentang kejadian tadi pagi yang menghebohkan. Berhubung aku berangkat kerja terlalu pagi, tidak sempat menyaksikan peristiwa itu. Jelas, aku penasaran dan mulai serius menyimak.
Budi : “benar-benar kasihan tuh anak!”
Cepot : “aku sampai miris tidak tega melihatnya.”
Aku : “memang kenapa dengan anak itu?”
Budi : “sulit untuk diceritakan boy.”
Aku : “ah gak  asyik kamu Bud,  ayo lah!”
Cepot : “orang tuanya begitu kejam Boy. bayangkan, anak itu di pukul pakai kayu jati”
Aku : “astagfirulloh, tega banget tuh bapak!”
Budi : “ tidak hanya itu, dia juga diusir oleh ibunya. Katanya malu punya anak seperti dia.”
Aku : “ hmmm, memang nya apa yang dilakukan anak itu?”
Cepot : “hanya ingin memakai  jilbab!”
Aku  : “ya Alloh, benar-benar orang tua kejam! Mereka muslim kan?”
Budi : “iya lah, la wong bapak ibunya sudah haji!”
Cepot : “malah kakaknya hafal al Quran”
Aku : “masya Alloh, kok ada ya orang tua sekejam itu?”
Cepot : “ya iya lah, kalau aku jadi bapaknya juga gitu!”
Aku : “La kok bisa pot?”
Budi :”Ya bisa lah, anaknya  kan cowok, mosok maksa mau make jilbab!”
Aku : “oalah jan, jan! Ngono to ceritane!”
Cepot dan Budi : “hahahahahahahahahahaha”
..

Keuntungan Menjomblo

Anda belum punya pasangan? Tak perlu pusing. Menjalani hidup lajang banyak keuntungan yang mungkin tak terpikir oleh Anda. Berikut beberapa keuntungan menjomblo:

Bebas Bertemu Teman
Kalau banyak dari teman Anda yang mengeluh lantaran jarang bertemu sejak Anda mempunyai kekasih, kayaknya ada yang salah dengan hubungan Anda dan si dia. Teman apalagi sahabat adalah orang terdekat yang setiap saat membantu. Bila Anda tak punya pacar alias lajang, Anda bebas bertemu dengan teman-teman dekat Anda.

Mudah Menjalin Hubungan Baru
Banyak lajang yang merasa sedih dan putus asa, belum dapat pasangan sampai saat ini. Ladies, jadi lajang bukan berarti Anda sendirian atau kesepian. Anda punya banyak waktu untuk bertemu dengan orang baru, dan menjalin pertemanan dengan siapa pun tanpa dicemburui siapa pun.

Memikirkan Diri Sendiri
Ngaku deh, yang sudah punya pasangan, kepala Anda tentu terbagi untuk memikirkan kepentingan si dia dan diri sendiri. Bahkan seringkali, Anda terpaksa mengorbankan waktu pribadi untuk dia. Bandingkan menjadi lajang, Anda punya banyak waktu memikirkan diri sendiri.

Menjadi Lebih Sehat
Kalau punya pasangan suka begadang, paling tidak Anda mesti menemani si dia jalan, minimal menerima teleponnya selarut apa pun. Hal itu tidak akan terjadi kalau Anda lajang, bisa tidur lebih awal. Imbasnya, Anda lebih sehat.

Jauh Dari Stres
Ada seorang teman yang selalu curhat soal kebiasaan buruk pasangannya dan sikap keluarganya yang belum bisa menerima dirinya sepenuhnya. Akibatnya, konsentrasi si wanita terganggu dan mudah stres. Bila Anda lajang, hal itu tidak terjadi. Dengan catatan, Anda menerima dan enjoy dengan status lajang Anda, kalau tidak, tetap saja Anda stres, ya kan?

Jauh Dari Sakit Hati
Berapa banyak lelaki bisa setia? Hm, seperti menemukan jarum di tumpukan jerami. Itu risiko yang harus Anda tanggung kalau punya pasangan. Sebaliknya, saat Anda melajang, pertarungan terberat yang perlu dihadapi adalah kesendirian, dan bisa ditanggulangi jika Anda punya banyak teman.

Jadi Lajang Itu Murah

Tak perlu menyiapkan dana untuk dua orang kalau Anda pergi ke mana-mana. Memang, kalau pacaran, ada pasangan yang membayari makanan. Tetapi, berapa banyak, sih? Kadang, Anda pun harus membayar diri sendiri juga, atau kalau pasangannya matre, Anda yang kena. Jadi lajang, lebih murah, karena hanya harus bayar untuk 1 orang saja.

Banyak Waktu untuk Keluarga
Biasanya kalau punya pasangan, waktu Anda lebih banyak dihabiskan bersama si dia. Keluarga sering dijadikan urutan ke sekian. Nah, kalau lajang, Anda punya banyak waktu untuk keluarga.

Leluasa Mewujudkan Rencana Sendiri
Seorang teman mendapat beasiswa ke luar negeri. Tetapi karena mau menikah, pendapat calon suaminya mesti ia dengarkan sehubungan dengan rencananya. Sialnya, calon suaminya tak mau ditinggal setelah menikah. Maka bimbanglah ia, memilh meneruskan kuliah atau menuruti permintaan calon suaminya. Kalau Anda jadi lajang, Anda bebas mewujudkan rencana dan impian Anda.

Bisa Berkencan dengan Siapa Saja
Dengan status lajang, Anda bisa berkencan dengan siapa saja. Mau menonton dengan si A, makan malam dengan si B, jalan-jalan bersama si C, tak ada yang melarang. Sambil, tentu saja, kalau masih berniat dapat pasangan, leluasa memilih mana yang pas jadi pendamping Anda.

Fokus Pada Karier
Mau bekerja akhir pekan, atau lembur, atau ditugaskan ke mana saja, demi meningkatkan karier, Anda tak perlu minta izin, kecuali kepada orangtua. Tanpa pasangan, Anda bisa memutuskan sendiri langkah terbaik untuk meniti karier.

Bebas Melakukan Kesenangan dan Hobi
Bayangkan bila hobi Anda travelling, sementara pasangan Anda tidak suka. Atau hobi Anda shopping, sementara si dia gemar menabung. Banyak pula perempuan yang suka hangout, sementara pasangannya sukanya berdiam diri di rumah. Bila Anda lajang, Anda bebas melakukan hobi Anda.

Bebas Berpakaian ala Anda
Banyak pasangan suka mengatur bahkan mengatur penampilan Anda. Syukur-syukur kalau pilihannya cocok dengan Anda. Kalau tidak, Anda tidak menjadi diri sendiri. Tetapi saat Anda melajang, bebas mengenakan busana apa pun yang Anda sukai. Asal pede, tak ada yang berani mengkritik atau berusaha mengubah Anda.

Tak Ada Wajib Lapor
Berapa kali Anda harus menelepon si dia mengatakan Anda ada di mana, sedang apa, dan apa yang akan Anda lakukan? Itu konsekuensi menjadi pasangan seseorang. Tetapi kalau Anda melajang, Anda bebas melakukan apa yang Anda suka. Yang perlu Anda lakukan adalah bertanggung jawab pada diri sendiri.


.

Rabu, 14 September 2011

☼☼☼ Orang Hebat ☼☼☼

                                Orang Hebat Hidup Dengan Semangat Kemuliaan

                               Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku
                                                               hanya untuk AllohTuhan semesta alam.
                                                                                al-An'am: 162

    
 Semangat dalam pengertian umum digunakan untuk menengarai minat yang menggebu, kegigihan, dan pengorbanan untuk meraih tujuan tertentu. Semangat melazimkan pengorbanan atas apa yang dimiliki - berupa materi, tenaga, pikiran, bahkan jiwa - untuk memenuhi apa yang diinginkan.

Seorang siswa gigih belajar hingga larut malam, berhari-hari, dan tak kenal lelah untuk memenuhi harapannya lulus UMPTN dan diterima di perguruan tinggi idaman. Seorang politisi tak kenal lelah senggol kanan-kiri, melakukan lobi-lobi, demi sebuah prestise berrnama kekuasaan, dst. Itulah semangat, itulah antusiasme, dalam sebagian fragmen kehidupan kita.

Yang akan kita bicarakan dalam bagian ini adalah semangat orang hebat. Semangat yang bertabur kemuliaan. Kemuliaan buah dari amal shaleh yang berdampak luas bukan hanya bagi dirinya pribadi, tapi juga bagi umat manusia dan kehidupan. Orang hebat bersemangat dalam amal yang terakhir disebut. Semangat mereka kekal dan abadi karena mereka mendasarkan tujuan dan pengharapan pada posisi yang benar - pada dzat yang kekal dan abadi, Tuhan Illahi Rabbi.

Inilah sumber motivasi yang menghasilkan kemuliaan. Meski kita kenal sumber-sumber lain berbentuk materi, pengakuan, penghargaan, prestise, semuanya bersifat sementara. Materi, siapa bisa jamin tetap dalam genggaman kita. Mungkin hari ini kita di atas bergelimang kekayaan. Esok hari bisa jadi kita di bawah bergumul dengan kemiskinan. Hari ini dipuji. Lain hari bisa jadi kita dimaki. Hari ini beroleh penghargaan. Kapan hari ada masanya kita dalam penghinaan, dst. Berharap kaya, harus siap miskin. Berharap pengakuan, harus siap dengan penolakan/pelecehan. Berharap penghargaan, harus siap dengan penghiaan, dst.

Mendasarkan semangat diri pada hal-hal di atas, berarti harus bersedia menerima kekecewaan. Semangat mudah sekali kendur. Semangat sangat mungkin luntur dengan cepat, secepat membalikkan telapak tangan. Lain halnya jika semangat didasarkan pada keridhaan Tuhan. Keridhaan-Nya kekal. Maka, semangatpun tak mengenal anfal. Ridha-Nya membuat hati kita ridha. Hati yang ridha tak mengenal sesal dan kecewa. Yang tersisa darinya hanyalah luasnya samudera penerimaan. Buahnya tentu saja kebahagiaan. Apa yang bisa menandingi kebahagiaan buah dari keridhaan?

Jika sumber terakhir yang dijadikan dasar, soal materi, pengakuan, penghargaan, dan prestise lebih sering mengikuti di kemudian hari. Jikalau tak beroleh keempat-empatnya sekalipun, hatinya tetap bahagia, hidupnya terasa bermakna karena ia memenangkan Alloh dari dunia dan segala isinya. Semangatnya tak pernah lekang dimakan zaman. Semangatnya tak pernah surut, meski (perolehan) materi tak pernah menghampirinya barang sejenak.

Semangat inilah yang dipunya oleh generasi pilihan umat. Semangatnya tumbuh, antara lain, dalam pribadi Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mampu mengumpulkan ribuan hadits shahih. Semangat yang ada dalam diri Imam Syafi'i yang mampu menghafal ribuan hadits dan merumuskan ribuan fatwa. Ada dalam diri Ibnu Katsir yang mampu menulis berjilid-jilid kitab tafsirnya, sebagaimana Ibnu Hajar Al-Atsqolani mampu melahirkan kitab Syarah Shahih Bukhari yang ketebalannya mengagumkan itu. Semangat itu juga menjelma dalam diri Imam Al-Ghazali sehingga dapat melahirkan kitab Ihya' Ulumiddin yang sangat fenomenal.

Semangat mereka luar biasa. Hasilnya karya mereka sungguh mempesona. Mereka sedemikian produktif menulis berlembar-lembar karya tulis padahal zamannya belum ada pena yang tintanya terus mengalir, belum ada mesin tik, belum ada komputer apalagi laptop dan PDA.

Dari sisi materi apa yang mereka peroleh? Mereka hampir-hampir sepi dari kekayaan duniawi. Imam Syafi'i yang terlahir miskin dan yatim sampai harus menegaskan keadaannya: "Aku rasa kecerdasanku akan memberikanku kekayaan yang melimpah," kata beliau. "Tapi," katanya lagi, "setelah aku mendapatkan ilmu ini, sadarlah aku bahwa ilmu ini tidak boleh dituntut untuk mendapatkan dunia. Ilmu ini hanya akan kita peroleh jika dituntut ia untuk kejayaan akhirat." (diambil dari Serial Kepahlawanan, M. Anis Matta, di Majalah Tarbawi, Edisi 59, 15 Mei 2003).

Itulah pilihan (semangat) Imam Syafi'i, demikian juga dengan ulama-ulama yang tersebut di atas. Mereka sadar ilmu agama mereka tidak berada dan tidak boleh berada pada pusaran harta duniawi. Mereka memenangkan akhirat (ridha Ilahi) di atas harta duniawi. Mereka adalah orang-orang miskin yang terhormat. Sebab kemiskinan bagi mereka adalah pilihan hidup, bukan akibat ketidakberdayaan. Pilihan, akibat memenangkan akhirat di atas segalanya.

Mereka memang sepi dari harta duniawi, tapi jangan tanya peran dan jasa mereka bagi generasi umat setelah mereka. Mereka meninggalkan warisan yang tak pernah putus manfaatnya bagi umat manusia. Mereka pun beroleh pahala yang tak pernah putus dihadang kematian - pahala dari ilmu yang bermanfaat.

Posisi hati mereka benar. Dasar pijakannya pun benar. Sehingga semangat mereka tak pernah padam. Mereka bekerja karena panggilan jiwa (calling). Panggilan untuk memenuhi ridha Ilahi. Atas dasar itu, hidup mereka bertabur kemuliaan dunia dan akhirat.

                                                   Orang Hebat Berakhlak Mulia

  
           Barang siapa mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan ami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.
                                                                  - An-Nahl: 97 - 

  



Kita masih akan menggali kriteria orang hebat berdasarkan petunjuk Nabi saw. Setelah, dalam bahasan terdahulu, kita mengupas hadits Nabi yang berbunyi sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat diantara sesamanya. Ada satu lagi hadits mirip dengan itu. Masih tentang 'sebaik-baik manusia.' Bunyi haditsnya sebagai berikut: Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya. Khairun nas ahsanuhum khuluqo.

Akhlak. Ia adalah perilaku atau tindakan yang didasarkan pada pemahaman nilai yang telah menjadi sikap mental yang mengakar dalam jiwa. Dari pengertian tersebut, ada tiga komponen pembentuk akhlak. Pertama, pemahaman nilai oleh akal pikiran. Kedua, keyakinan dalam hati. Dan ketiga, amal dalam bentuk perilaku atau perbuatan.

Benar keluarannya adalah perbuatan, tapi dasarnya adalah nilai yang difahami akal-pikiran, diyakini oleh hati, dan tertanam dalam jiwa. Dalam bahasa agama, akhlak adalah perpaduan antara iman dan amal sholeh. Dengan demikian, akhlak merupakan ekspresi paling lengkap dari kualitas kemanusiaan seseorang. Bisa dikatakan, kalau ingin melihat baik-buruknya seseorang lihatlah akhlaknya. Inilah ukuran paling tepat untuk menilai kepribadian seseorang. Bahkan, baik-buruknya, jatuh-bangunnya, maju-terbelakangnya suatu peradaban sering dikaitkan dengan kondisi akhlak masyarakatnya atau dalam banyak kesempatan sering dibahasakan sebagai moralitas masyarakat.

Menimbang betapa pentingnya akhlak, suatu ketika Nabi saw bertanya kepada para sahabat, "Inginkah kalian kuberitahu tentang siapa dari kalian yang paling kucintai dan akan duduk terdekat denganku di majelis di hari kiamat kelak?" Nabi kemudian mengulang pertanyaan itu sebanyak tiga kali. Hingga sahabat terhenyak dan bertanya, "Ya, kami ingin mengetahuinya ya Rasululloh!" Nabi kemudian bersabda, "Orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian." Bahkan, masalah akhlak secara khusus disebut Nabi sebagai misi risalah beliau - dalam sabdanya: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Innama bu’itstu liutammimma makaarimal akhlaq.

Karena menyangkut kualitas kemanusiaan, wilayah akhlak tersebar dalam semua fora kegiatan dan aktivitas manusia, dari wilayah kepribadian, hubungan horizontalnya dengan sesama manusia (hubungan sosial), hubungan vertikalnya dengan sang pencipta, dan dalam berbagai bidang kehidupannya. Wujudnya ada dua: akhlak terpuji dan akhlak tercela. Yang dimaksud sebagai yang terbaik akhlaknya, tentu saja merujuk pada akhlak yang terpuji. Apa saja yang termasuk di dalamnya? Banyak sekali!

Hidup dan kehidupan diciptakan dalam bentuk berpasangan. Setiap perbuatan ada pasangan baik dan buruknya. Apa yang baik mendatangkan manfaat dan maslahat. Manfaat dan maslahat mendatangkan kebahagiaan hidup. Dalam pandangan yang visioner, kebahagiaan (harus) diwujudkan bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Tentunya jika dilakukan dengan cara-cara yang benar, visi itu akan memenuhi hasilnya. Akhlak terpuji bermuara pada itu.

Anis Matta dalam bukunya Membentuk Karakter Cara Islam menjelaskan kriteria penerimaan akhlak terpuji menurut Islam. Kriteria penerimaan yang dimaksud meliputi niat, proses, dan hasil. Akhlak terpuji atau akhlak shalih adalah perbuat yang dilakukan dengan motif (niat) semata-mata untuk Alloh swt. dan dilakukan dengan cara yang benar sesuai dengan sunnah Rasululloh saw. Dengan demikian, perbuatan itu bukan saja diterima di sisi Alloh swt., tetapi juga sukses dalam ukuran manusia; bukan saja mengantarkan pelakunya memperoleh keselamatan di akhirat, tapi juga kebahagiaan di dunia.

Apa bentuk atau wujud akhlak terpuji? Bagimana menginternalisasikan dalam diri? Akhlak terkait dengan karakter. Strategi pembentukannya tentu saja Inside-out - dari dalam hati (jiwa) mewujud ke dalam perilaku. Sehingga setelah pemahaman dan keyakinan akan nilai, yang dilakukan kemudian adalah pembiasaan-pembiasaan dalam bentuk amal-kerja.

Akhlak dan karakter bukanlah hal yang statis. Keduanya bersifat dinamis, asal kita punya komitmen pembelajar sejati. Nilai terpuji atau nilai positif tersebar dalam banyak ruang kehidupan. Bagi kita umat Islam, kita punya sumber kebaikan abadi al-Quran dan Sunnah Nabi. Tinggal kemauan kita untuk belajar dan memahami, lalu meyakini dan menginternalisasikan dalam hati. Caranya banyak: belajar mandiri, cari murabbi (baca: guru), ikuti majelis ilmu, dll. Salurannya pun banyak ragamnya, dari yang formal di lembaga-lembaga pendidikan sampai yang nonformal di surau-surau, di organisasi, di forum-forum studi, dll. Pilih dan ciptakan saluran pembelajaran yang benar-benar memberdayakan diri - menuntun pada akhlak terpuji.

Lingkungan sosial - pertemanan, pergaulan, permainan, organisasi, kerjasama - juga memiliki porsi besar dalam mempengaruhi akhlak seseorang. Untuk tujuan membentuk akhlak terpuji, bergaulah dengan orang-orang shaleh, orang-orang yang berpikiran dan berperilaku positif, orang-orang progresif, orang-orang hebat, dst. Ciptakan lingkungan yang kondusif bagi diri untuk meraih akhlak terpuji. Bangunlah team (ingat the dream team) yang terdiri dari orang-orang hebat, sholeh, baik, positif, dan progresif. Baru setelah itu, berbaurlah dengan masyarakat. Serukan kebaikan dengan teladan yang mengedepankan akhlak terpuji.

Akhlak terpuji menjelma dalam banyak sekali cara memandang, merasa, bersikap, dan berperilaku sehari-hari. Ia bukan hal baru, tapi secara turun-temurun diwariskan dari dan untuk orang-orang yang ingin hidup mulia dan bahagia. Anis Matta secara jeli menyimpulkan bagi kita induk-induk dan turunan akhlak terpuji sebagai berikut:

* Cinta kebenaran melahirkan turunan dan lawannya sebagai berikut: Jujur >< Dusta, Adil >< Zalim, Komit >< Nifaq, Amanah >< Khianat.
  *Kekuatan kehendak menurunkan sifat sebagai berikut: Optimis, Inisiatif, Tegar, Tegas, Serius, Disiplin, Pengendalian Diri.
*Himmah (Ambisi) yang tinggi menurunkan sifat sebagai berikut: Dorongan Berprestasi, Dinamika, Tidak Mudah Menyerah, Harga Diri, Keseriusan.
* Kesabaran melahirkan sifat sebagai berikut: Tenang, Konsisten, Pengendalian Diri, Lembut, Santun, Mampu Menjaga Rahasia.
* Rasa kasih (Rahmah) melahirkan sifat sebagai berikut: Pemaaf, Empati, Berbakti Kepada Orang Tua, Silaturrahmi, Lembut, Penolong, Musyawarah, Santun Kepada Fakir Miskin.
* Naluri sosial melahirkan sifat berikut: Bersih Hati, Ukhuwah, Menutup Aib Sesama, Mempu Bekerjasama, Penolong, Anti Perpecahan, Menjaga Milik Bersama.
* Cinta manusia melahirkan sifat berikut: Besih Jiwa, Kerjasama, Keterlibatan Emosional, Adil, Dermawan, Selalu Berkehendak Baik.
* Kedermawanan melahirkan sifat berikut: Pemurah, Hemat, Harga Diri, Mendahulukan Orang Lain, Infak, Ukhuwah.
* Kemurahan hati melahirkan sifat berikut: Lembut, Luwes, Pemaaf, Ridha, Ceria, Menyenangkan Orang Lain.

Itulah diantara wujud akhlak terpuji. Setelah tahu dan faham, yang dibutuhkan hanyalah komitmen pelaksanaan. Dan orang hebat memenuhi komitmen itu. Ia tahu. Ia faham. Ia yakin. Maka, Ia mengamalkannya. Secara berulang-ulang dan konsisten. Ia pun menghiasi hari dengan akhlak mulia. Dan ia memilih menjadi yang terbaik akhlaknya diantara sesamanya.
  Orang Hebat Berani Mengambil Resiko  

                                             Selalu ada satu saat di masa lalu ketika pintu terbuka, dan masa depan
                                                                         masuk ke dalamnya dengan leluasa.
                                                                                             - Deepak Chopra -


Hidup manusia di dunia tidak lepas dari dua hal berikut: peluang dan resiko. Nasib setiap orang lebih banyak ditentukan oleh bagimana keduanya ditangkap dan dikelola daripada oleh yang lainnya. Peluang dan resiko ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya lekat tak terpisah. Menangkap peluang berarti sekaligus berani mengambil resikonya. Tidak ada peluang tanpa resiko. Sebaliknya, resiko adalah konsekuensi logis dari pilihan kita untuk menangkap setiap peluang. Memilih untuk menjadi pegawai, resikonya harus siap diperintah atasan. Sebaliknya, memilih untuk menjadi wirausahawan, resikonya penghasilan sering tidak menentu. Memilih untuk melamar anak orang, resikonya harus siap (saling) berbagi dan menanggung hidup masing-masing. Sebaliknya memilih hidup membujang, resikonya tiap hari kesepian di rumah, apalagi kalau malam datang, dan lain-lain.

Orang sering takut mengambil peluang karena takut resikonya. Pun setelah peluang diambil, banyak orang gagal karena tidak bisa mengatasi resiko. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keberhasilan sejatinya adalah resultan dari usaha seseorang dalam menangkap peluang dan mengatasi resikonya. Orang yang ingin berhasil - dalam hal apapun, dengan demikian, harus punya keberanian untuk menangkap peluang dan mengambil resikonya sekaligus. Menangkap peluang berarti menjadi orang-orang pertama (pioner) yang take action atas sesuatu hal. Sementara mengambil resiko diartikan sebagai tidak takut pada resiko serta punya bekal ilmu dan rencana untuk mengatasi resiko tersebut. Keberaniaan terakhir akan kita jadikan ciri kesekian dari orang hebat.

Keberaniaan mengambil resiko dalam pengertian di atas menjadikan orang tidak asal ambil resiko atau asal ambil peluang, tapi benar-benar keberaniaan yang didasarkan pada perhitungan yang memadai, bukan ke-nekad-an. Banyak orang gagal karena hal terakhir. Maunya dibilang berani, tapi sesungguhnya nekad. Banyak orang maunya berwirausaha, tapi malah jadi pengangguran. Banyak orang ingin rumah tangganya bahagia, tapi malah sebaliknya, dst. Apa yang dimaksud dengan perhitungan yang memadai sesungguhnya ada pada aspek perencanaan setiap orang. Sekali lagi, ini menegaskan betapa pentingnya perencanaan dan komitmen pelaksanaannya. Orang hebat punya itu. Punya rencana dan punya komitmen pelaksanaan. Sehingga ketika masanya tiba, peluang tak akan lari kemana, resiko tak harus jadi momok yang menakutkan.

Mereka, orang-orang hebat, selalu berusaha menjadi pioner (assabiqunal awwalun) atas berbagai peluang di hadapan. Tetapi, mereka memilih menjadi pioner yang punya perhitungan yang memadai. Sehingga keberanian mereka bukan ke-nekad-an yang dipaksakan. Mereka tidak takut menghadapi resiko karena mereka punya ilmu, wawasan, dan keterampilan, lalu mereka susun rencana, dan mereka punya komitmen pelaksanaan atasnya.

Dengan begitu, tidak ada istilah takut dalam kamus orang-orang hebat. Memang, adakalanya mereka harus hati-hati memutuskan. Ada masanya mereka harus memperhitungkan waktu, situasi, dan kondisi. Namun, ketika keputusan telah diambil, tak pantang menyerah pada masalah, tak pantang mundur apalagi kabur menghadapi masalah. Mereka selalu punya ruang yang luas untuk mengevaluasi, merencanakan kembali, dan memulai investasi lagi (baca: usaha perbaikan) atas pilihan peluang yang diambil.

Orang hebat melihat dan menjalani proses sebagai pembelajaran. Sehingga, jika kegagalan sekalipun yang datang, difahaminya sebagai jalan panjangnya kesuksesan. Apa yang muncul kemudian adalah pikiran-pikiran positif dan solutif atas permasalahan. Di sanalah letak keberanian orang hebat. Berani mengambil resiko karena punya rencana. Berani mengambil resiko karena punya cara pandang pembelajar. Mereka tak pernah berhenti berproses (on becoming) menjadi lebih baik sebelum akhirya menjadi yang terbaik. Maka benarlah apa yang diungkapkan oleh bait-bait puisi anonim berikut ini:
Resiko

Tertawa adalah mengambil resiko terlihat bodoh.
Menangis adalah mengambil resiko terlihat sentimental.
Menjangkau yang lain adalah mengambil resiko terlibat.
Mengungkapkan perasaan adalah mengambil resiko menunjukkan diri yang
sesungguhnya.
Menunjukkan gagasan dan impian anda di depan orang banyak adalah mengambil resiko
merasa malu.
Mencinta adalah mengambil resiko tidak dicinta.
Hidup adalah mengambil resiko mati.
Berharap adalah mengambil resiko putus asa.
Berusaha adalah mengambil resiko gagal.
Tapi resiko harus dihadapi, karena bahaya terbesar dalam hidup ini adalah tidak mengambil resiko sama sekali.
Orang yang tidak berani mengambil resiko tidak akan melakukan apa-apa, tidak punya apa-apa, dan bukan siapa-siapa.
Mereka mungkin menghindari penderitaan dan kesengsaraan, tapi mereka tidak bisa belajar, merasakan, mengubah, tumbuh, mencintai, atau hidup.
Dalam keadaan terikat oleh kepastian, mereka adalah para budak. Mereka telah mengekang kebebasan mereka sendiri.
Hanya orang yang berani mengambil resiko adalah orang yang bebas

                                                           Orang Hebat Hidup Berprinsip
Dalam bukunya yang bagus Principle-Centered Leadership, Stephen R. Covey mengatakan bahwa setiap diri manusia dan organisasi memiliki prinsip sentris yang bila diaplikasikan secara baik dapat meningkatkan mutu dan produktivitas. Prinsip-sentris, kata Covey, merupakan satu pendekatan jangka panjang yang bersifat inside-out untuk mengembangkan manusia dan organisasi. Saya sependapat dengan Covey, prinsip adalah inti kekuatan untuk perubahan hidup yang lebih baik. Dengan berprinsip manusia bukan lagi sekedar seonggok daging yang bertulang. Lebih dari itu, manusia menjadi makhluk paling mulia dan berharga dari makhluk manapun.

Prinsip. Ia adalah ekspresi nilai yang harus dipegang teguh oleh setiap manusia beradab. Prinsip memberikan arah. Prinsip mendorong setiap orang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Prinsip adalah ukuran. Orang yang berprinsip adalah orang yang punya ukuran atas tindakan dan perbuatan yang dilakukannya. Dengan demikian, tidak bisa tidak, prinsip berbicara baik-buruk dan benar-salah. Prinsip mempertegas apa yang baik dan apa yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.

Bagaimana prinsip bekerja? Salah satu ciri orang dewasa adalah bijaksana. Orang yang bijaksana adalah orang yang memiliki pertimbangan atas pilihan-pilihan hidupnya. Pertimbangan itu di dasarkan pada prinsip. Dan orang yang bijaksana selalu mendasarkan diri pada prinsip-prinsip yang baik dan benar. Karena mereka tahu, prinsip yang baik mendatangkan manfaat dan prinsip yang benar mendatangkan kebahagiaan. Apa yang dicari dalam hidup selain manfaat dan kebahagiaan? Itulah tujuan akhir orang-orang hebat. Mereka punya prinsip yang baik dan benar. Makanya, mereka selalu bermanfaat dan merasa bahagia hidupnya.

Bagaimana wujudnya prinsip? Tanpa sadar, komitmen kita, keyakinan kita, keberpihakan kita atas banyak hal, bahkan eksistensi kita di dunia ini mengandung prinsip yang harus kita pegang teguh. Islam itu prinsip. Iman itu prinsip. Orang yang ber-Islam harus taat pada serangkaian syari'at yang ditetapkan lewat kalam-Nya maupun lewat lisan nabi-Nya. Demikian juga, orang yang mengaku beriman harus memenuhi konsekuensinya: tidak menyekutukan-Nya, tidak bergantung kepada selain-Nya, dll. Apa ketentuan Alloh tentang hidup? Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Orang yang mengaku berislam dan beriman, mau tak mau, harus memenuhi prinsip ini (ibadah).

Ada hadits yang menjelaskan tiga tanda orang munafik: (1) Jika berbicara bohong. (2) Jika berjanji ingkar. Dan (3) jika dipercaya khianat. Mafhum mukholafah-nya, sifat jujur, tepat janji, dan amanah harus menjadi prinsip orang yang beriman. Kecuali dia mau menjadi orang munafik. Yang lain, misal, kita mendukung demokrasi. Inti dari demokrasi adalah kebebasan yang bertanggung jawab, kesetaraan, dan kesamaan. Kalau kita mau dibilang sebagai demokrat, ya kita harus berpegang pada tiga hal itu - untuk diri kita sendiri maupun sikap kita kepada orang lain. Tiga hal itulah yang menjadi prinsip demokrat, dll.

Orang hebat memahami komitmennya, keyakinannya, keberpihakannya terhadap banyak hal, dan hidup itu sendiri sebagai prinsip. Mereka berusaha mengendapkan dan menanamkan prinsip itu dalam hati. Sebelum mereka bertindak atau melakukan sesuatu, mereka selalu meminta nasihat hatinya. Mereka memenuhi apa yang dikatakan Nabi: Mintalah nasihat pada hatimu atas perbuatan kamu. Perbuatan jelek itu akan membuat hati tidak nyaman. Sedangkan perbuatan baik itu akan membuat hati tentram.

Orang hebat pantang menodai prinsipnya. Orang hebat pantang melukai hatinya. Mereka benar-benar memahami itulah cara dia hidup mulia. Seorang Gandhi, betapapun ia hidup sengsara, ia tetap menolak koloni terhadap bangsanya. Ia terus melawan dengan cara-cara (baca: prinsip) tanpa kekerasan meski banyak yang harus ia korbankan. Jauh sebelum Gandhi, kita punya teladan mulia, Muhammad saw. Imannya kepada Alloh membuatnya berani menentang penyembahan terhadap berhala-berhala. Padahal ritual itu jamak dilakukan orang-orang Quraisy pada masa itu. Ketika pamannya Abu Thalib menasehati Nabi untuk menghentikan risalah itu, apa kata Nabi? "Paman, demi Alloh, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan risalah ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan, biar nanti Alloh yang akan membuktikan kemenangan itu: di tanganku atau aku binasa karenanya."

Itulah keteguhan Muhammad saw dalam memegang prinsip. Prinsipnya mengendap di hati dan menggumpal menjadi keyakinan. Keyakinan membuatnya berani. Itulah prinsip yang terlaksana. Kita tentu ingin seperti beliau. Untuk itu saya tutup tulisan ini dengan pertanyaan Ali bin Abi Thalib kepada Nabi tentang prinsip yang beliau jadikan pegangan.

   
Pahami kata-katanya satu persatu dan temukan rahasia kehebatan Muhammad saw.


Ma'rifat adalah modalku,
akal pikiran adalah sumber agamaku,
rindu kendaraanku,
berdzikir kepada Alloh kawan dekatku,

keteguhan perbendaharaanku,
duka adalah kawanku,
ilmu adalah senjataku,
ketabahan adalah pakaianku,

kerelaan sasaranku,
faqr adalah kebangganku,
menahan diri adalah pekerjaanku,
keyakinan makananku,

kejujuran perantaraku,
ketaatan adalah ukuranku,
berjihad perangaiku,
dan hiburanku adalah dalam sembahyang
 
 
                                             Orang Hebat Hidup Bertabur Manfaat

Ada satu hadits Nabi yang sangat populer berbunyi: khairun nas anfa'uhum lin nas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak mafaatnya bagi sesamanya. Hadits ini disampaikan dengan bahasa yang sangat positif (positive talk). Pertama, kata khairun nas berarti "yang terbaik diantara manusia." Kedua, kata anfa'uhum berarti "yang paling bermanfaat."

Paling bermanfaat. Meskipun kita tahu tidak ada yang dapat meraih kesempurnaan dalam hal apapun - termasuk kemanfaatan dirinya - bunyi hadits itu mendorong setiap orang untuk menjadi yang "ter" diantara sesamanya. Inilah bahasa motivasi. Selalu ada - baik tersurat maupun tersirat - muatan: Pertama, isyarat kesempurnaan sebagai patokan tujuan. Kedua, supaya isyarat itu lebih menggerakkan diadakan kesan kompetisi (fastabiqul khairat). Sehingga kesempurnaan yang dimaksud bersifat relatif (dibandingkan) diantara sesamanya (manusia) dalam hal-hal yang positif.

Bagimana menjadi orang yang "ter" atau "paling bermanfaat"? Pertama, niat menjadi orang yang paling bermanfaat. Niat adalah posisi hati pada pekerjaan yang dimaksud. Niat, lalu menjadi orientasi. Makanya, niat menjadi sangat personal bagi setiap orang. Inilah ekspresi personal statement yang paling dasar - dan juga fundamental - bagi setiap orang. Masih ingat hadits Innamal a'mal bin niyat....dst? Betapa niat, disinyalir di hadits itu, dapat menentukan hasil - bahkan sebelum prosesnya berjalan.

"Menjadi orang bermanfaat", dengan demikian, harus menjadi pernyataan diri. Inilah pernyataan misi (mission statement) kita di awal kita memperoleh kesadaran/pencerahan diri (personal enlightment). Contoh teknis misi (ingin) menjadi orang bermanfaat: Saya adalah hamba Alloh yang berpendidikan, cerdas, dan prestatif yang bertekad untuk selalu belajar dan berbuat baik kepada sesama dengan cara memberdayakan masyarakat di sekitar saya. Niat - pernyataan misi - ini harus mengendap sampai alam bawah sadar sehingga mudah tergerak untuk menjadi (being).

Kedua, kemanfaatan lahir dari semua kebaikan. Lakukan semua yang baik dengan cara-cara yang benar. Kebaikan adalah kata kerja. Dia tidak perlu disebut berulang-lang, cukup difahami dan dilaksanakan. Prosesnya: menemukan, mengembangkan, dan menyebarkan. Temukan satu, dua, tiga, dst pekerjaan yang baik. Lalu kembangkan pekerjaan itu. Dan orientasikan untuk peningkatan kualitas insani orang banyak – untuk peningkatan wawasan, keterampilan, kesejahteraan, kebahagiaan, dll. Dengan begitu, penemu (ilmuwan-peneliti), industrialis yang mengembangkan produk - yang niatnya tidak hanya laba, distributor, dst menjadi orang-orang yang beroleh kemanfaatan diri.

Pegiat ilmu - ilmu apapun dari ilmu eksak, sosial humaniora, agama, dll - yang mau menyebarkan ilmunya untuk diamalkan, dimanfaatkan, dan atasnya lahir kemanfaatan yang lain juga masuk sebagai orang-orang yang beroleh kemanfaatan diri. Pengajar, dosen, juru suluh, juru dakwah, asatidz, penulis, dll masuk dalam golongan ini. Tidak terbatas pada dua hal itu. Intinya semua hasil karya yang dapat meningkatkan kualitas insani untuk sebanyak-banyaknya orang - itulah yang dinilai sebagi amal yang bermanfaat. Dan pelakunya adalah orang yang bermanfaat hidupnya. Tidak harus profesi, pekerjaan, status formal, yang penting mendatangkan manfaat.

Setelah kita memahami esensi aktivitas-peran yang mendatangkan manfaat, lalu bagaimana kita menjadi yang paling bermanfaat dalam berbagai aktivitas-peran itu? Caranya adalah dengan memosisikan diri secara benar dan tepat. Pertama, jadilah yang pertama (be the first) atau pengambil inisiatif atas segala bentuk perbuatan baik. Kedua, jadikan inisatif perbuatan baik itu benar-benar berkualitas dan prestatif. Usahakan setiap perbuatan baik bernilai optimal - vertikal untuk mendapatkan ridho-Nya, horisontal manfaatnya sampai pada orang-orang yang membutuhkan. Dan ketiga, the power of concistency. Konsisten melakukan perbuatan baik sehingga menjadi kebiasaan dan mengkarakter. Show habit reap character. Jangan lakukan, di satu sisi kehidupan kita berbuat baik, pada saat yang bersamaan, di sisi lain kita berbuat buruk atau tercela. Konsistenlah!

Menjadi paling bermanfaat. Inilah motivasi orang hebat. Mereka tak pernah berhenti mencari-cari peluang amal kebaikan. Ketika dapat, mereka jadi orang pertama yang mengambil pekerjaan itu. Bekerjanya bukan setengah hati, bukan pula mengharap puji, tapi dengan kesungguhan sehingga berkualitas dan bertabur prestasi. Orang-orang pun merasakan manfaat darinya. Orang hebat sadar, pekerjaannya harus berujung manfaat buat masyarakat. Manfaat yang tidak biasa, tapi luar biasa!